WIDAGDO BAB I
1.0
Standarnya selalu ada
dua tipe dalam setiap hal. Begitu pula pada persoalan hati. Seseorang yang
memilih bersedih hingga letih, menunggu sembuh meski kadang kambuh, dan terus
menjalani hari dengan berserah, karena
kekosongan akibat isi yang tumpah pecah secara tiba-tiba. Atau seseorang yang
terus bertanya, tidak menerima, kebingungan, dan terus hidup dengan penyesalan
serta merasakan ketidakadilan pada dirinya sendiri.
Untuk membuat kedua tipe
tersebut percaya pada keindahan di masa depan adalah hal yang sulit, karena
mereka sedang berada di fasenya dengan caranya masing-masing.
Siapa yang percaya pada
amatiran penanam tumbuhan layu dan hampir mati, sekarat dan tak ada harapan
lagi? Sekalipun semerbak taman dan warna-warni bunga, tak mampu menolehkan
orang dengan hati yang sedang sakit.
1.1 : Fragile Tapi Tidak
Hancur
Hidup memberi jeda
paksa. Pulang ke rumah setelah dunianya abu-abu dan pandemi melanda. Lengkap
sudah riuh kepala pengangguran baru. Rumah yang kosong di pedesaan, tanpa keluarga,
tidak ada orang tua. Satu-satunya tujuan yang ia pilih untuk pulang.
Itu satu tahun yang lalu
ketika ia menginjakkan kaki di rumah orang tuanya yang kosong ini, dan sekarang
ia kembali lagi.
Tidak seperti tahun
lalu, rutinitasnya sedikit berbeda. Tidak ada lagi alunan lagu solo Rose
Blackpink di rumah minim sekat itu dari pagi hingga sore. Tapi Migu masih
sering duduk menghadap bangkunya, memandangi laptop selama berjam-jam hingga
siang. Masih banyak hal yang ia cari di internet. Tapi tidak lagi dengan
mengirimkan CV-nya ke beberapa alamat. Untuk rutinitas jam ketika ia merasa
lapar masih sama, membeli makan ke warung terdekat dan menyantapnya di rumah.
Kemudian ia akan melihat Youtube atau membaca buku sampai sore. Kemarin paket
bukunya datang lagi. Bulan ini koleksi bukunya meningkat.
Tidak banyak yang
berubah dari desa ini sejak terakhir kali ia berkunjung. Oh iya, bagaimana
kabar toko buku yang sempat ia sambangi sewindu yang lalu?
Mungkin toko buku itu
juga termasuk salah satu alasan ia kembali, diam-diam merindukan rasa tenang
yang pernah ia temukan sekelebat disana.
Saat itu Fanya, remaja
yang menjadi tetangga Migu nampaknya sudah bosan melihat rutinitas tanpa gairah
hidup dengan balutan lagu-lagu galau yang selalu memenuhi rumah Migu. Terkadang
ia mampir sekedar menyapa atau mengirim makanan karena disuruh Ibunya. Fanya
menyarankan Migu untuk mencari kegiatan, berkeliling desa, berjalan-jalan pagi
mencari udara segar, atau mampir ke toko buku.
Pada saat itu, akhirnya
Migu benar-benar mampir ke toko buku di desanya. Awalnya, beberapa kali dia
hanya lewat dengan sepeda mini dan dibalut dengan perasaan ragu. Mana mungkin
di desa kecil ini ada toko buku?
Tapi setelah beberapa
kali ia melewati lokasi yang dikatakan Fanya sebagai lokasi toko buku, Migu
justru kebingungan. Memang benar ada sebuah rumah yang di depannya terdapat
papan nama tergantung jelas bertuliskan "Toko Buku Hara", tapi
penampilan rumah ini lebih mirip dengan rumah penduduk biasa. Dipenuhi dengan
berbagai macam tumbuhan dan bunga di halamannya yang luas, teduh, rindang, dan
agak sepi, berada di sudut desa. Migu masih skeptis rumah itu benar-benar
berpenghuni. Atau paling tidak benar-benar toko buku.
Migu masuk ke halaman
lahan besar berpagarkan tumbuhan yang nampak kokoh dan rapi. Sambil menuntun
sepeda usangnya, ia melihat sekeliling, sejuk. Lalu ia memarkirkan sepedanya di
bawah pohon kelengkeng yang belum berbuah. Ia mendekati satu-satunya pintu kayu
besar yang terbuka.
"Permisi?"
Hanya dengan berdiri di
depan pintu saja, Migu percaya bahwa ini memang benar toko buku.
Wah, sejak kapan ada
toko buku lucu dan syahdu di desa ini? Kenapa orang tuanya tidak pernah cerita
selama delapan tahun Migu tidak kemari? Tahu begitu, pasti dia akan lebih
sering pulang ke desa.
Dari arah yang sama,
seseorang datang sambil membawa lap kain dan berjalan sedikit cepat menghampiri
Migu yang masih di depan pintu layaknya orang bertamu. "Iya? Ada yang bisa
saya bantu Kak?"
Migu sedikit terkejut
dan berbalik badan. Di samping kanannya seorang laki-laki telah berdiri
menyambut Migu dengan pakaian yang santai tetapi sedikit tertutup oleh celemek
coklat tua.
"Ini benar toko
buku?"
Laki-laki itu tersenyum
hangat, "benar Kak, maaf ini tadi saya baru bersih-bersih jendela
samping," kain lap di tangan lelaki itu cukup menjadi bukti, "Ini
memang toko buku, tapi lebih ke perpustakaan, kalau Kakak ingin membaca atau
melihat-lihat buku silakan saja langsung masuk ke dalam,"
Migu langsung paham
dengan pengantar singkat lelaki itu. Ia manggut-manggut, "Oh, oke baik,
terimakasih, saya mau lihat-lihat dulu sebentar."
Begitu kedatangan Migu
pertama kali di Toko Buku Hara. Hanya tiga kali sebelum kepergiannya lagi untuk
bekerja di luar kota. Kemudian ternyata lelaki itu adalah pemilik toko
bukunya.
Waktu itu hanya tiga
kunjungan. Tapi tiga kunjungan yang mengubah cara ia memandang 'pulang'.
1.2
Usai menyelesaikan
selancarnya di internet sore ini, setelah mandi, Migu bersiap mengayuh
sepedanya ke toko buku yang sudah ia rindukan sejak di perjalanan ia pindah
lagi ke desa ini. Sepanjang jalan ia memikirkan apakah toko buku itu masih ada?
Apakah sudah banyak berubah? Apakah sudah tutup?
Ia turun dari sepeda,
menuntunnya dan memasuki halaman luas itu sama seperti saat pertama kali
berkunjung. Memarkirkan sepedanya di bawah pohon kelengkeng yang sama.
"Halo?"
Sapaan Migu membuat
seorang lelaki di meja kasir yang sedang duduk entah mengerjakan apa, menoleh.
"Kak Migu ya?"
tanya lelaki itu yang langsung berdiri menyambut Migu pelan.
"Iya, Mas
Sam?"
"Masuk Kak,"
lelaki yang dipanggil Sam itu tersenyum. Mempersilakan Migu duduk di meja
bundar kecil terbuat dari kayu, di atasnya pas sekali menggantung kipas angin
yang mati.
Migu duduk sambil
meletakkan dompetnya. Sam juga duduk kembali di kursi semula. Mereka berhadapan
dengan jarak yang cukup jauh.
"Tumben tidak ada
orang?"
"Tadi baru aja ada
yang pulang. Kak Migu sendiri kemana saja baru kelihatan lagi?"
"Iya nih, baru
balik dari luar kota. Ada buku baru apa?"
Ia tidak tahu,
pertanyaan itu bukan hanya tentang buku. Tapi tentang hidupnya yang ingin mulai
dari halaman baru.
Dan mungkin, tanpa ia
sadari, halaman itu akan dimulai di tempat yang sama seperti dulu : Toko Buku
Hara.
Komentar
Posting Komentar