Dan Kemudian Migu
Ia pernah seperti orang gila, orang yang benar-benar gila, hilang arah, bingung mau kemana. Pagi hingga sore berteman dengan kasur dan handphone-nya. Malam hingga larut, pergi berkelana, memakai pakaian tertutup, kian hari kian serba hitam, tak pernah lupa tersenyum lebar menyapa teman, berkumpul bersama orang-orang yang baru dikenalnya, dengan tak pernah canggung sering memakai kaca mata hitam meski di dalam ruangan. "Bisa dilepas nggak sih kaca mata hitamnya?" di bawah atap asbes tinggi yang kalau siang lumayan panas apabila tidak dibantu oleh kipas angin yang tersebar di berbagai penjuru warung makan ini, sahabat Migu melontarkan perintah iseng itu, "suka banget pake kaca mata dimana-mana, minimal pas di warung tuh dilepas, apalagi kalo udah malem," Mungkin sekarang ia hanya geleng-geleng kepala. Mengingat musim menggantung. Masa dimana ia tahu betul secara teori, tapi tercekik oleh emosi. Kala itu, ia merasakan berbagai macam perasaan. Bisa jadi tertawa, bisa ja...