Dan Kemudian Migu
Ia pernah seperti orang gila, orang yang benar-benar gila, hilang arah, bingung mau kemana. Pagi hingga sore berteman dengan kasur dan handphone-nya. Malam hingga larut, pergi berkelana, memakai pakaian tertutup, kian hari kian serba hitam, tak pernah lupa tersenyum lebar menyapa teman, berkumpul bersama orang-orang yang baru dikenalnya, dengan tak pernah canggung sering memakai kaca mata hitam meski di dalam ruangan.
"Bisa dilepas nggak sih kaca mata hitamnya?" di bawah atap asbes tinggi yang kalau siang lumayan panas apabila tidak dibantu oleh kipas angin yang tersebar di berbagai penjuru warung makan ini, sahabat Migu melontarkan perintah iseng itu, "suka banget pake kaca mata dimana-mana, minimal pas di warung tuh dilepas, apalagi kalo udah malem,"
Mungkin sekarang ia hanya geleng-geleng kepala. Mengingat musim menggantung. Masa dimana ia tahu betul secara teori, tapi tercekik oleh emosi. Kala itu, ia merasakan berbagai macam perasaan. Bisa jadi tertawa, bisa jadi langsung menangis, bisa jadi sedih, bisa jadi langsung melamun.
Untuk mencerna segala yang teraduk di hatinya, ia kebingungan.
Musim peralihan yang tak pernah ia bayangkan, bahwa musim seminya menggantung, tak kunjung mekar, tak juga kemarau. Ia adalah Migu yang ceria dan dicabut paksa, tapi terus disiram air mengalir deras oleh orang-orang terdekatnya, takut ia layu, kering, mati, dan tidak pernah bersemi kembali.
Mungkin sahabatnya paham bahwa tawa keras dan senyum yang tak pernah pudar itu bukan sepenuhnya kembali mekar. Migu menggelar kelopaknya sendiri untuk menutupi luka di jauh lubuk hatinya. Ia kesakitan, tak tahu obatnya harus bagaimana, sampai apapun yang ada dalam pikirannya ia coba.
Dan bertahun-tahun kemudian ia menjadi Migu yang telah belajar mengelola emosinya, mengelola kesabarannya, mengolahnya menjadi sikap untuk hati-hati dan penuh perhitungan dalam melangkah, mengakibatkan ia membangun dinding tinggi yang tidak ia sadari.
Lalu ia kembali ke desa mungil nan asri. Menuju Toko Buku Hara yang pernah ia temukan tanpa sengaja. Duduk berjam-jam di bawah kipas angin menjadi pengunjung setia yang betah membaca disana. Entah sudah berapa novel yang sudah ia tamatkan selama sebulan ini.
"Mas, kamu kan pernah bilang kalau kamu introvert, terus kenapa kamu bikin tempat yang justru bisa mendatangkan banyak orang kesini?"
Lawan bicaranya duduk sejajar, dua meter dari lengan kanannya, sedang menghadap laptop mengerjakan sesuatu di meja kasir. Mereka beberapa kali mengobrol tanpa saling tatap, fokus dengan buku dan laptop masing-masing.
Lawan bicaranya duduk sejajar, dua meter dari lengan kanannya, sedang menghadap laptop mengerjakan sesuatu di meja kasir. Mereka beberapa kali mengobrol tanpa saling tatap, fokus dengan buku dan laptop masing-masing.
"Introvert bukan berarti nggak mau ketemu orang,"
"Aku paham dan aku setuju,"
"Terus? Kenapa tanya begitu?"
"Aku paham dan aku setuju,"
"Terus? Kenapa tanya begitu?"
"Pengen tahu aja,"
"Terus?"
"Terus?"
"Oke, kenapa introvert?"
"Karena dari kecil sering sendiri, akhirnya nyaman sendiri sampai sekarang, tapi aku juga suka sosialisasi sama orang lain kok,"
"Makanya punya toko buku ya?"
"Ada visi lebih besar dari pada itu,"
"Menarik,"
Mas Sam menoleh ke kiri, membuat Migu ikut menoleh ke arahnya. Mereka bertukar senyum manis. Lalu, Migu mengacungkan jempolnya, dan Mas Sam hanya terkekeh. Dia adalah lelaki pemilik sekaligus pengelola toko buku ini. Migu mulai mengobrol dengannya sejak sebulan kerap kemari. Dulu, sewaktu ia menemukan toko buku ini tanpa sengaja, tak pernah terpikirkan ia kemudian akan kembali lagi dengan intensitas sesering ini.
"Kalau kamu?" Mas Sam berbalik menanyakan hal serupa.
"Aku? nggak tahu," Migu mengendikkan bahu.
"Aku? nggak tahu," Migu mengendikkan bahu.
Saat ini mereka bertatap muka, melanjutkan perbincangan dengan mata.
"Suka ramai atau sendiri?"
Hanya ada mereka berdua di toko buku siang ini, ditemani suara kipas angin dan kucing Mas Sam yang sesekali lewat kesana kemari.
"Aku suka menikmati waktu sendiri, main sendiri, pergi sendiri, di kamar sendiri, baca buku, nonton film sendiri, semua sendiri,"
"Tapi?"
"Aku juga butuh untuk keluar, aku mudah berbaur, kalau aku mau,"
"Tapi nggak mau?"
"Bukan,"
"Terus?"
"Tergantung mood aja.."
Mas Sam berdiri, menghembuskan nafas pelan sambil tersenyum melihat Migu yang juga merubah tubuhnya menghadap buku kembali, "repot wanita satu ini," senyum itu masih terpampang jelas di wajah Mas Sam.
"Memang, aku juga aslinya jauh lebih repot, hehe..."
Perbincangan mereka kadang ringan, kadang sepele, kadang berbobot, kadang seru, kadang berujung canggung, kadang tak selesai, kadang bersambung, dan kadang ada yang memikirkannya terlalu dalam.
Efek berbincang dengan orang yang baru dikenal, baru masa perkenalan, dan sering bertemu. Jika terlalu akrab akan canggung, bila tidak peduli juga akan aneh. Makanya, Migu hanya mengikuti alur dalam setiap perkenalannya dengan orang-orang baru, dan dia hanya tetap ingin menjadi dirinya sendiri.
Komentar
Posting Komentar