WIDAGDO BAB 2
2.0
Pagi di desa selalu
datang tanpa tergesa. Migu menikmati kepulangannya disini. Bebas dari keluarga,
tanpa ada kerabat, tidak ada pertanyaan, tuntutan, sanggahan, dan sebagainya.
Ia bebas dari pertanyaan kapan menikah? Kenapa resign lagi? Kenapa setahun
tidak kemari?
Ia hidup tenang dan
damai, meski kabut tipis yang menggantung di antara rumpun padi sering
membuatnya kedinginan saat ia mencari udara segar sambil mengambil beberapa
jepret pemandangan untuk dipostingnya di media sosial. Sepulang dari persawahan
luas, dengan sepeda mini merah muda lapuknya, ia diiringi suara ayam tetangga
bersahutan. Sebenarnya dia agak kurang suka dengan ayam-ayam.
Romantisasi slow
living yang kerap digaungkan generasi jaman sekarang, ia merasa
beruntung masih bisa menikmati pagi sambil melihat di halaman rumah beberapa
tetangganya, daun-daun jambu air jatuh perlahan seperti tidak ingin mengganggu
pagi syahdunya.
Sudah dua minggu sejak
ia kembali ke desa dan mengulang status yang dulu pernah ia jalani: pengangguran
part 2. Tapi berbeda dengan satu tahun lalu yang masih dipenuhi rasa kalah,
kini hari-hari Migu datang dengan ritme yang lebih tenang. Memang, ia masih
belum kepikiran untuk bekerja lagi, ia tidak tergesa. Migu tahu ia harus
bertanggung jawab dengan hidupnya, harus memikirkan masa depannya. Tapi Migu
ingin menjalani seluruhnya tanpa ada tekanan. Ia benar-benar tidak menyukai
tekanan.
Tepat pukul sembilan
pagi, dengan penampilan seadanya, ia memasukkan buku ke dalam tas kecil, lalu
mengayuh sepeda menuju toko buku Hara. Tekadnya sudah bulat untuk datang
kesana. Toko buku yang tidak berubah. Masih teduh, masih sunyi, dan masih
memiliki halaman luas yang terasa seperti tempat orang bisa pulang bahkan tanpa
perlu pergi.
Widagdo duduk di meja
kasir seperti biasa, mencatat sesuatu yang hanya dia sendiri yang tahu.
"Aku pinjam buku
lagi ya hari ini," ucap Migu tanpa banyak basa-basi.
Widagdo mengangguk,
tersenyum ringan. Itu senyum yang menurut Migu cocok jadi sampul buku "Cara
Menyambut Pengunjung dengan Ramah Tanpa Banyak Kata."
"Kalau hari ini Kak
Migu mau bantu beresin rak juga boleh."
Dan Migu hanya tertawa
kecil. Bisa melucu juga ternyata Widagdo.
Ia datang sebagai
peminjam buku. Tapi perlahan, tanpa ia sadari, ia mulai tinggal lebih lama dari
yang seharusnya. Migu duduk di bangku favoritnya dan menanyakan hal yang sama
usai menggantungkan tas kecilnya di sandaran kursi, "kipasnya boleh aku
nyalain?"
"Tentu," jawab
Widagdo ramah.
Seperti seseorang yang
datang hanya untuk membaca, meski diam-diam ingin tetap duduk lebih lama. Ada
magnet tersembunyi di toko ini meskipun minatnya pada buku memang sangat
tinggi. Jika bisa berteriak, mungkin Migu dengan girang akan berteriak dengan
sangat lantang, "Aku suka tempat ini!"
Jika ia keterusan duduk
disana setiap hari dan melahap semua buku yang kebanyakan buku sejarah, mungkin
tahu-tahu ia berusia 60 tahun dan lupa tentang tanggung jawab hidupnya yang
selama ini hanya ia pikirkan dalam kepalanya sendiri. Migu mungkin hanya bisa
melongo ketika ditanya orang tuanya, terutama ibunya yang ada di luar pulau
menelfon menanyakan progres hidupnya. Apakah tidak terlalu kurang ajar jika dia
menjawab "maaf Mah, tahu-tahu usia Migu sudah 60 dan Migu masih betah
membaca buku disini, nggak tahu mau ngapain lagi," sambil mengendikkan
bahu.
Widagdo menyodorkan
segelas teh hangat di depan Migu, yang sedang fokus membaca buku novel karya
Tere Liye, perempuan berusia beranjak dewasa itu mendongak, "Loh,
repot-repot,"
"Nggak papa,
pelanggan setia Toko Buku Hara lama tidak kemari dan harus dijamu juga,"
"Padahal
kemarin-kemarin aku juga kesini terus, kok nggak dijamu?" Migu bercanda
sambil menelangkupkan kedua telapak tangannya ke cangkir teh hangat. Seolah
menransfer energi yang hangat dan menenangkan, ia merasa penuh.
"Aku pikir bakal
bikin minum sendiri kayak anak-anak lain, eh nggak bikin-bikin," Widagdo
membalasnya.
Migu sebenarnya juga
sudah sedikit mengerti suasana toko buku ini, karena ia terlalu sering datang
kemari meskipun ia adalah 'orang pindahan'. Beberapa anak-anak yang disebutkan
Widagdo adalah para pemuda daerah sini yang datang membaca buku, ada juga yang
hanya nongkrong, duduk-duduk di teras, atau kalau ngobrol kencang biasanya
menggelar tikar di halaman depan di bawah pohon jeruk bali. Mereka selalu
mengambil air mineral di kardus yang disediakan oleh Widagdo di samping meja
mungil berisikan gelas-gelas belimbing dan seperangkat perkopian serta
pertehan. Mereka juga mahir membuat kopi sendiri dan membawa serta ke halaman
untuk digabungkan bersama rokoknya. Pikir Migu, sayang sekali tempat syahdu ini
dicemari asap rokok. Oke baik, tapi mari tidak membicarakan rokok lebih
panjang, yang jelas, Migu tidak suka rokok.
"Nggak bisa,
hehe," Migu nyengir tanpa merasa terbebani. Ia baru saja membuka sebuah
fakta baru mengenai dirinya, selain namanya, yaitu realita ia tidak bisa
membuat teh.
"Nggak bisa?"
Widagdo yang sudah duduk di meja kasir dan menghadap ke arah Migu terdengar
syok tidak percaya. "Yaampun Kak.."
Bibirnya mengkerut,
kedua matanya menyipit, "emangnya harus bisa? kan aku biasa beli
Mas,"
"Nanti kalau mau teh
lagi aku ajarin Kak,"
Bibirnya melebarkan
senyum kembali, "hehe.. terimakasih, ide bagus."
"Mas Sam!"
seorang perempuan kira-kira usia SMP masuk ke toko buku sambil memanggil
Widagdo dengan lantang, mengakhiri perbincangan ringan antara Migu dan Widagdo.
"Iya? Kenapa
kencang sekali manggilnya?" Widagdo menjawab sambil beranjak beridiri.
Anak SMP itu
cengingisan, "mau pinjam buku," terlihat ia masih memakai seragam
batik sekolahnya dan membawa selembar kertas, "ini ada tugas Bahasa
Indonesia, aku harus cepet-cepet kesini sebelum temen-temenku yang lain pada
pinjem, ntar aku kehabisan,"
Migu sempat
memperhatikan sekilas interaksi pengunjung itu dengan Widagdo, lalu kembali
fokus pada buku bacaannya tanpa tahu lagi bagaimana selanjutnya Widagdo menangani
pelanggan. Prosesi itu sudah sering Migu saksikan ketika di toko buku ini,
interaksi pengunjung dan penjaga toko buku.
Widagdo menuju rak novel
diikuti anak SMP itu dan merekomendasikan beberapa novel yang cocok untuk tugas
sekolahnya. Setelah selesai memilih, mereka kembali ke meja kasir untuk
menuliskan data buku yang dipinjam di sistem Widagdo, lalu anak SMP itu pamit
yang akhirnya membuat Widagdo duduk lagi di kursinya.
"Mas Sam, aku mau
pamit dulu ya," kata Migu sambil mengemas barang dan menuju meja kasir,
mendata buku yang akan ia bawa pulang lagi.
"Buru-buru?"
"Takut bentar lagi
ada pasukan peminjam buku, ehehe,"
Widagdo tersenyum kecil
di sela menuliskan data di sistem. "Wah, padahal mau aku mintain tolong
rapihin rak buku belakang,"
"Ih, kan aku bukan
karyawanmu," Migu membalas candaan Widagdo yang makin hari makin membuka
percakapan antara mereka berdua.
Sebentar, siapa yang
pertama kali mulai bercanda seperti ini?
"Mahal ini pasti bayarannya,"
"Benar sekali,
hehe, aku pamit dulu ya, terimakasih," Migu menerima kartu pinjam buku dan
buku yang ia pinjam.
"Sama-sama,
hati-hati."
Migu sudah keluar dari
teras tanpa membalas pesan "hati-hati" dari Widagdo. Pikirannya hanya
satu, membeli es coklat di jalan pulang lalu membaca sepuasnya lagi di rumah,
dengan tenang.
2.1
Hari-hari berikutnya
berjalan mirip. Migu bisa datang tiga sampai empat kali seminggu. Ia mulai
terbiasa duduk agak lama di meja baca sambil membawa laptop—meski jarang
betul-betul mengetik sesuatu disana. Kadang ia hanya membaca, kadang melihat
pengunjung lain, kadang melihat Widagdo mondar-mandir dengan celemek dan kertas
catatan; yang kadang terlihat sibuk, kadang terlihat lupa kalau ia pemilik
toko.
Suatu siang, ketika toko
sepi dan angin dari jendela cukup kencang untuk membuat Migu mematikan kipas
angin di atasnya. Widagdo tiba-tiba menghampiri Migu dan bergabung duduk di
meja bundar itu untuk pertama kalinya. Kedua lengannya di atas meja dan
jemarinya saling bertaut.
“Kak, kalau punya
rekomendasi buku, boleh tulis di papan itu ya.” Ia menunjuk sebuah papan kecil
bertuliskan ‘Boleh direkomendasikan’, kosong.
“Saya kan cuma pembaca,”
jawab Migu.
“Pembaca yang datang
lagi dan lagi. Itu justru yang penting.”
Migu tidak menjawab,
tetapi ia langsung beranjak dengan percaya diri dengann energi semangat yang
kuat meskipun tidak terlihat secara blak-blakan. Ia menulis sesuatu di papan,
tapi tidak menunjukkannya pada Widagdo. Sebuah nama buku yang ia suka.
-kalau kamu ingin
belajar tentang kesabaran dan ketabahan, bacalah novel Tentang Kamu dari Tere
Liye-
Dan itu membuat Widagdo
tersenyum.
Mendekati akhir tahun,
kunjungannya semakin sering. Entah siapa yang memulai, sekarang mereka saling
berbalas pesan. Awalnya hanya soal teknis, yang lama-lama menjadi
kebiasaan.
‘Hari ini ramai ya
tokonya?’
Migu juga mulai bantu
hal-hal yang tidak ia sadari, dan kini menjadi rutinitas. Beberapa kali ia
turut andil menjadi pelayan di toko buku milik Widagdo. Ia memberi tahu anak SD
yang datang kalau buku cerita yang dicari ada di rak bagian bawah. Meskipun
berwajah tenang, kelihatannya anak-anak menyukai kehadiran Migu atau sekedar
partisipasi Migu membantu mereka.
"Kakak namanya
siapa?"
"Kakak kerja disini
ya sekarang?"
"Kakak rumahnya
mana?"
"Kakak boleh bantu
ambil buku yang disana?"
Dan banyak panggilan
"Kakak..Kakak" lain yang kini sudah familiar di telinganya. Dulu
mungkin ia hanya fokus pada buku yang sedang dibacanya dan pikirannya sendiri,
tapi kemudian ia digerakkan secara paksa oleh seorang anak kecil yang meminta
tolong untuk mengambilkan buku ketika Widagdo sedang tidak disana. Tidak
disangka, hari berikutnya si anak kecil itu membawa rombongan dan mereka minta
dibacakan buku cerita oleh Migu.
Ia tidak bisa menolak.
"Wah akhir bulan
aku gajian nih, Mas," canda Migu pada Widagdo yang sedang mencatat entah
apa di meja kasir. Migu baru datang setelah beberapa hari absen.
Widagdo mendongak,
langsung tersenyum ketika Migu menyapa. "Wah, harus beli amplop buat gaji
karyawan magang nih aku ya,"
"Gausah diamplop
juga nggak papa Mas," Migu nyengir sampai lesung pipi kanannya yang jarang
muncul itu nampak sekilas.
Widagdo tidak bisa
menjawab dan geleng-geleng kepala.
"Halo Kak
Migu!" seorang perempuan masih memakai seragam SMA menyapa Migu, masih
sibuk mencatat sesuatu di meja besar dan menghadap beberapa buku yang terbuka.
"Eh Kak Migu!"
satu orang lagi muncul membawa beberapa buku dari barisan rak dan bergabung di
meja besar.
Migu menghampiri mereka,
"Halo.. lagi nugas ya?"
"Iya nih," dan
mereka pun mulai meluapkan isi hatinya yang begitu lelah mengerjakan tugas yang
kian hari kian menumpuk.
Setelah mendengarkan
keluh kesah para pelajar, Migu duduk di singgasananya seperti biasa dan mulai
membaca buku yang baru saja ia ambil. Kini ia membaca buku self improvement,
The Alpha Girl's Guide, termasuk masih hangat di tahun ini. Migu tenggelam di dunianya.
Suatu kali, ia pulang
sedikit lebih malam dari seharusnya. Hanya karena ingin buku di
rak-rak itu tampak lebih rapi dan nyaman. Ia membantu tanpa paksaan,
bahkan merasa senang dan lega. Migu membantu Widagdo menutup toko. Lampu sudah
dimatikan setengah, dan Migu berkemas pulang.
“Besok datang lagi?”
tanya Widagdo tanpa menatap.
Migu mengangguk.
“Sepertinya iya.”
“Tapi kamu kan bukan
karyawan?”
Migu menoleh pelan.
“Iya.”
“Tapi datang lagi?”
“Datang.”
Dan percakapan itu
selesai dengan satu senyum yang tidak terlalu besar, tapi cukup untuk membuat
Migu sulit tidur malam itu. Ia telah merasakan kecanduan dengan toko buku ini.
Mungkin.
Besok sorenya, toko buku mulai
sepi dan Widagdo menghampiri bangku Migu. "Kak, besok malam ikut bakar-bakar
sama anak-anak nggak?"
Migu berpikir sejenak,
"gajiannya diganti bakar-bakar?"
Widagdo tertawa kecil.
"Gimana ya.."
Migu masih belum yakin untuk mengiyakan tawaran Widagdo.
Komentar
Posting Komentar