Postingan

WIDAGDO BAB 2

  2.0   Pagi di desa selalu datang tanpa tergesa. Migu menikmati kepulangannya disini. Bebas dari keluarga, tanpa ada kerabat, tidak ada pertanyaan, tuntutan, sanggahan, dan sebagainya. Ia bebas dari pertanyaan kapan menikah? Kenapa resign lagi? Kenapa setahun tidak kemari?   Ia hidup tenang dan damai, meski kabut tipis yang menggantung di antara rumpun padi sering membuatnya kedinginan saat ia mencari udara segar sambil mengambil beberapa jepret pemandangan untuk dipostingnya di media sosial. Sepulang dari persawahan luas, dengan sepeda mini merah muda lapuknya, ia diiringi suara ayam tetangga bersahutan. Sebenarnya dia agak kurang suka dengan ayam-ayam.   Romantisasi  slow living  yang kerap digaungkan generasi jaman sekarang, ia merasa beruntung masih bisa menikmati pagi sambil melihat di halaman rumah beberapa tetangganya, daun-daun jambu air jatuh perlahan seperti tidak ingin mengganggu pagi syahdunya.   Sudah dua minggu sejak ia...

WIDAGDO BAB I

  1.0   Standarnya selalu ada dua tipe dalam setiap hal. Begitu pula pada persoalan hati. Seseorang yang memilih bersedih hingga letih, menunggu sembuh meski kadang kambuh, dan terus menjalani hari dengan berserah, karena kekosongan akibat isi yang tumpah pecah secara tiba-tiba. Atau seseorang yang terus bertanya, tidak menerima, kebingungan, dan terus hidup dengan penyesalan serta merasakan ketidakadilan pada dirinya sendiri.   Untuk membuat kedua tipe tersebut percaya pada keindahan di masa depan adalah hal yang sulit, karena mereka sedang berada di fasenya dengan caranya masing-masing.   Siapa yang percaya pada amatiran penanam tumbuhan layu dan hampir mati, sekarat dan tak ada harapan lagi? Sekalipun semerbak taman dan warna-warni bunga, tak mampu menolehkan orang dengan hati yang sedang sakit.      1.1 : Fragile Tapi Tidak Hancur   Hidup memberi jeda paksa. Pulang ke rumah setelah dunianya abu-abu dan pandemi melanda. ...