WIDAGDO BAB 2
2.0 Pagi di desa selalu datang tanpa tergesa. Migu menikmati kepulangannya disini. Bebas dari keluarga, tanpa ada kerabat, tidak ada pertanyaan, tuntutan, sanggahan, dan sebagainya. Ia bebas dari pertanyaan kapan menikah? Kenapa resign lagi? Kenapa setahun tidak kemari? Ia hidup tenang dan damai, meski kabut tipis yang menggantung di antara rumpun padi sering membuatnya kedinginan saat ia mencari udara segar sambil mengambil beberapa jepret pemandangan untuk dipostingnya di media sosial. Sepulang dari persawahan luas, dengan sepeda mini merah muda lapuknya, ia diiringi suara ayam tetangga bersahutan. Sebenarnya dia agak kurang suka dengan ayam-ayam. Romantisasi slow living yang kerap digaungkan generasi jaman sekarang, ia merasa beruntung masih bisa menikmati pagi sambil melihat di halaman rumah beberapa tetangganya, daun-daun jambu air jatuh perlahan seperti tidak ingin mengganggu pagi syahdunya. Sudah dua minggu sejak ia...